Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan
Tenaga Ahli Pemko Padang
Kebakaran pemukiman di Kota Padang bukan lagi sekadar berita musibah di linimasa media sosial yang lewat begitu saja. Kejadian demi kejadian yang menghanguskan rumah penduduk seolah menjadi alarm keras yang terus berbunyi.
Sayangnya, kita sering kali terjebak dalam siklus yang sama: kebakaran terjadi, pemadam datang, netizen berduka, lalu kita lupa sampai musibah berikutnya datang melanda.
Secara teknis, kebakaran memang dipicu oleh masalah tata ruang dan kelalaian infrastruktur. Namun, jika dibedah lebih dalam, akar masalah sesungguhnya ada pada faktor manusia (human error) yaitu rendahnya literasi pencegahan kebakaran dan mulai pudarnya kepekaan sosial.
Menghadapi masalah ini tidak bisa hanya mengandalkan armada pemadam kebakaran (damkar). Kita butuh pendekatan holistik yang menyentuh hati dan kebiasaan masyarakat, yaitu dengan mengintegrasikan nilai agama, menghidupkan kembali kearifan lokal Minangkabau, dan memperkuat kepedulian sosial kontemporer.
Jika kita berkeliling ke kawasan padat penduduk di Padang seperti di Kampung Jao, Lapai, atau kawasan pinggiran sungai. kita akan melihat potret pemukiman yang memperlihatkan kerentanan tinggi.
Banyak kawasan pemukiman tumbuh secara organik tanpa perencanaan yang matang. Rumah-rumah berhimpitan tanpa jarak aman, bahkan banyak yang semi-permanen dengan material kayu yang mudah terbakar.