Di sisi lain, generasi muda yang betul-betul memegang prinsip tersebut akan merasa bingung, karena tindakan kekerasan tersebut sama sekali tidak mencerminkan jati diri mereka secara kolektif.
Stigma Intoleransi dan Luka Psikologis Kolektif
Psikologi klinis memandang bahwa stigma sosial mampu menjadi penyebab luka psikologis yang tersembunyi.
Ketika secara kolektif masyarakat minang dilabeli “tidak toleran”, hal ini menimbulkan tekanan emosional tersendiri terutama bagi mereka yang kuat dalam memegang falsafah Minangkabau.
Mereka merasa bahwa stigma tersebut sama sekali tidak merepresentasikan bagaimana seharusnya masyarakat minang bersikap.
Di sisi lain akan muncul cognitive dissonance atau konflik antara nilai yang diyakini individu dan persepsi dari luar.
Jika konflik ini semakin dalam, maka akan berdampak pada munculnya kecemasan, rasa malu secara kolektif serta perasaan tidak berdaya.
Anak-anak dan remaja tentunya menjadi kelompok paling rentan terhadap tekanan-tekanan ini.