Sumatera Barat: Toleransi Ala Minang dan Resiliensi Psikologis di Balik Isu Intoleransi

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Minggu, 3 Agustus 2025 | 02:10 WIB
Ilustrasi keberagaman di Sumatera Barat. (Dok. Pribadi)
Ilustrasi keberagaman di Sumatera Barat. (Dok. Pribadi)




Di sisi lain, generasi muda yang betul-betul memegang prinsip tersebut akan merasa bingung, karena tindakan kekerasan tersebut sama sekali tidak mencerminkan jati diri mereka secara kolektif.





Stigma Intoleransi dan Luka Psikologis Kolektif





Psikologi klinis memandang bahwa stigma sosial mampu menjadi penyebab luka psikologis yang tersembunyi.





Ketika secara kolektif masyarakat minang dilabeli “tidak toleran”, hal ini menimbulkan tekanan emosional tersendiri terutama bagi mereka yang kuat dalam memegang falsafah Minangkabau.





Mereka merasa bahwa stigma tersebut sama sekali tidak merepresentasikan bagaimana seharusnya masyarakat minang bersikap.





Di sisi lain akan muncul cognitive dissonance  atau konflik antara nilai yang diyakini individu dan persepsi dari luar.





Jika konflik ini semakin dalam, maka akan berdampak pada munculnya kecemasan, rasa malu secara kolektif serta perasaan tidak berdaya.





Anak-anak dan remaja tentunya menjadi kelompok paling rentan terhadap tekanan-tekanan ini.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB
X