Mereka yang secara langsung menyaksikan konflik terkait rumah ibadah, mungkin saja akan mengalami vicarious trauma atau trauma sekunder, dimana trauma yang dialami secara tidak langsung akibat melihat kekerasan maupun penolakan yang terkait dengan perbedaan agama.
Gejala yang mungkin mereka alami dan terlihat berupa ketakutan secara terus menerus, menarik diri dari lingkungan sosial serta berkembangnya prasangka negatif terhadap individu yang berasal dari kelompok berbeda.
Gejala ini jika dibiarkan berkembang secara terus menerus tanpa ditangani maka turut serta menumbuhkan sikap dan nilai eksklusif yang justru akan memunculkan bibit intoleransi tersebut.
Resiliensi Psikologis: Benteng dari Dalam Budaya
Sejatinya, kekuatan mental dan sosial yang dimiliki masyarakat Minangkabau justru berfungsi sebagai pelindung alami terhadap tekanan-tekanan tersebut.
Psikologi klinis melihat ini sebagai bentuk resiliensi, menjadi kekuatan individu untuk bangkit dari tekanan, trauma maupun stigma dengan tetap menjaga fungsi-fungsi psikologisnya secara sehat.
Resiliensi masyarakat Minangkabau terbentuk dari beberapa aspek:
Identitas Budaya yang Kuat: identitas diri sebagai ‘orang Minang’ secara tidak langsung membentuk rasa harga diri secara kolektif dan munculnya makna hidup yang stabil. Keyakinan dan identitas ini, secara langsung menjadi jangkar psikologis saat mengalami banyaknya tekanan dari luar.
Dukungan Sosial dan Kekerabatan : keunikan masyarakat dalam sistem kekerabatan matrilineal dan nilai gotong royong yang dianut secara tidak langsung menciptakan ikatan sosial yang hangat. Hal ini membuat individu jarang sekali mengalami loneliness atau kesepian karena pada komunitas ini dalam setiap aspek kehidupan seluruh keluarga selalu terlibat.