Oleh: Prof Dr Ir Haryani, MTP
Guru Besar Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Bung Hatta (UBH)
Ketika lahan mengering, aktivitas manusia meningkat, dan sistem pencegahan belum cukup kuat, api kecil dapat berubah menjadi bencana besar.
Ada satu pesan penting dari data kebakaran hutan dan lahan Sumatera Barat, kita tidak boleh menunggu asap untuk mulai bertindak. Karhutla memang bukan bencana baru di Sumatera Barat.
Namun, perubahan luas area terbakar dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa ancamannya perlu ditangani secara lebih serius, terutama ketika kondisi iklim, tutupan lahan dan aktivitas manusia bertemu dalam situasi yang menguntungkan penyebaran api.
Data statistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan luas area terbakar di Sumatera Barat pada 2018 mencapai sekitar 2.421,9 hektare.
Angka tersebut kemudian menjadi sekitar 2.133 hektare pada 2019, 1.573 hektare pada 2020, 2.068 hektare pada 2021, dan melonjak menjadi 9.832 hektare pada 2022. (Statistics Indonesia)
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa karhutla tidak bergerak secara linier. Ada tahun ketika kebakaran relatif rendah, tetapi terdapat pula periode ketika luas area terbakar meningkat beberapa kali lipat.