Sumatera Barat: Toleransi Ala Minang dan Resiliensi Psikologis di Balik Isu Intoleransi

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Minggu, 3 Agustus 2025 | 02:10 WIB
Ilustrasi keberagaman di Sumatera Barat. (Dok. Pribadi)
Ilustrasi keberagaman di Sumatera Barat. (Dok. Pribadi)



Hal ini tampak pada sistem kekerabatan Matrilineal yang dianut oleh Masyarakat Minang.





Sistem ini merupakan kebudayaan yang cukup unik, karena tidak banyak penganutnya di Indonesia maupun di seluruh dunia.





Keunikan sistem matrilineal ini membentuk struktur sosial yang kokoh dan penuh toleransi.





Sebuah pepatah mengatakan “bulek aia dek pambuluh, bulek kato dek mufakat” jelas mengungkapkan secara tegas bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah pada setiap individu.





Untuk menyatukan perbedaan itu maka secara lumrah harus diselesaikan melalui dialog bersama.





Integrasi nilai adat dan agama Islam yang tidak kaku, juga digambarkan dalam falsafah minang “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”.





Falsafah ini mengandung prinsip moral, keadilan dan pengayoman terhadap masyarakat tanpa pandang bulu.





Sehingga ketika terjadi insiden yang mencerminkan eksklusivitas yang dikemas dalam kekerasan berbasis agama, masyarakat minang yang menjunjung tinggi falsafah tersebut akan merasa sangat terluka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB
X