Walaupun demikian, belum terdapat batas durasi universal yang dapat diterapkan kepada seluruh jenis tanaman untuk menentukan tingkat toleransi terhadap kabut asap. Dampaknya dipengaruhi oleh kepekatan aerosol, besarnya pengurangan radiasi matahari, karakteristik tanaman, dan fase pertumbuhan saat paparan terjadi.
Karena itu, penilaian risiko tidak cukup dilakukan dengan mengetahui apakah suatu wilayah mengalami kabut asap. Lamanya paparan dan kondisi tanaman ketika paparan berlangsung juga perlu diperhitungkan.
Penelitian Menunjukkan Penurunan Fotosintesis dan Hasil Padi
Gambaran mengenai potensi dampak kabut asap terhadap tanaman juga terlihat dalam penelitian terhadap beberapa varietas padi di Malaysia.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa paparan kabut asap tingkat sedang selama sekitar lima minggu, pada fase vegetatif akhir hingga awal pembungaan, berkaitan dengan penurunan laju fotosintesis bersih sebesar 12,9–53,2 persen dalam pengamatan harian.
Penelitian yang sama juga melaporkan hasil panen 10–19 persen lebih rendah dibandingkan potensi hasil. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengaruh kabut asap perlu dilihat dengan mempertimbangkan tingkat paparan dan tahap perkembangan tanaman.
Fase vegetatif akhir hingga awal pembungaan menjadi rentang pertumbuhan yang diamati dalam penelitian tersebut. Hasilnya memberikan gambaran mengenai kemungkinan gangguan ketika tanaman terpapar kabut asap selama beberapa minggu.
Namun, angka penelitian itu tidak dapat langsung diterapkan sebagai perkiraan kehilangan hasil bagi semua komoditas atau seluruh wilayah pertanian. Kondisi lingkungan, varietas, tingkat kepekatan aerosol, serta lamanya paparan dapat berbeda antara satu lokasi dan lokasi lainnya.