Memetakan Kawasan Pertanian yang Berpotensi Terpapar
Peta distribusi AOD dapat dipadukan dengan peta penggunaan lahan untuk mengidentifikasi kawasan pertanian yang berpotensi mengalami paparan aerosol tinggi.
Penggabungan data tersebut memungkinkan peneliti mengamati apakah wilayah dengan beban aerosol relatif tinggi beririsan dengan kawasan produksi pertanian. Informasi ini dapat menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut melalui pengamatan lapangan.
Pada sektor tanaman pangan, analisis dapat difokuskan pada kawasan persawahan dan sentra produksi jagung. Untuk hortikultura, pemantauan dapat mencakup daerah penghasil cabai, tomat, dan berbagai jenis sayuran.
Sementara itu, kawasan perkebunan kelapa sawit, karet, kopi, dan kakao juga dapat dimasukkan dalam pemetaan. Perbedaan komoditas tersebut penting karena setiap jenis tanaman memiliki karakteristik pertumbuhan dan respons yang berbeda terhadap perubahan lingkungan.
Dian menjelaskan bahwa dampak paparan aerosol tidak selalu muncul pada waktu yang sama untuk setiap tanaman. Jenis tanaman dan fase pertumbuhan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi respons terhadap perubahan kondisi atmosfer.
“Namun, respons tanaman berbeda menurut jenis dan fase pertumbuhannya. Gangguan pada tanaman hortikultura berumur pendek dapat terlihat lebih cepat, sedangkan pada tanaman perkebunan tahunan dampaknya mungkin baru muncul kemudian,” jelasnya.
Paparan kabut asap yang berlangsung lama berpotensi mengurangi cahaya yang diterima tanaman. Apabila pengurangan radiasi matahari terjadi secara terus-menerus, proses pertumbuhan, pembungaan, pembentukan buah, dan kualitas hasil panen dapat terdampak.
Durasi paparan menjadi salah satu faktor penting dalam menilai risiko tersebut. Semakin lama tanaman berada dalam kondisi yang kurang mendukung, semakin besar kebutuhan untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya gangguan kumulatif.