Data tersebut menunjukkan adanya gangguan terhadap kejernihan atmosfer di sejumlah wilayah. Bagi kawasan pertanian, kondisi ini menjadi salah satu informasi yang perlu diperhatikan ketika menilai kemungkinan paparan aerosol.
Meski demikian, pengamatan jarak pandang pada satu waktu belum dapat menjelaskan berapa lama suatu kawasan terpapar kabut asap. Untuk mengetahui pola paparan, diperlukan analisis yang mencakup rangkaian pengamatan selama periode tertentu.
Deret waktu AOD dapat digunakan untuk mengidentifikasi periode ketika beban aerosol meningkat. Data tersebut selanjutnya dapat dibandingkan dengan titik panas yang terdeteksi satelit VIIRS serta informasi arah angin untuk menilai kemungkinan keterkaitan antara aerosol dan kebakaran.
Pendekatan tersebut dapat membantu menguraikan perubahan aerosol secara temporal dan spasial. Peneliti dapat memeriksa kapan nilai AOD meningkat, di mana peningkatan itu terjadi, dan apakah pola tersebut sejalan dengan informasi kebakaran serta pergerakan angin.
Namun, sumber aerosol tidak selalu berasal dari karhutla. Emisi kendaraan, kegiatan industri, pembakaran biomassa dari sumber lain, serta sumber alami turut berkontribusi terhadap keberadaan aerosol di atmosfer.
“Perlu diperhatikan bahwa aerosol tidak seluruhnya berasal dari karhutla. Emisi kendaraan, industri, pembakaran biomassa lainnya, dan sumber alami juga berkontribusi terhadap aerosol atmosfer,” katanya.
Karena itu, hubungan antara peningkatan AOD dan kebakaran perlu dianalisis bersama informasi pendukung. Nilai AOD yang tinggi saja tidak cukup untuk memastikan bahwa seluruh aerosol di suatu wilayah berasal dari karhutla.