Pengolahan data dapat mencakup perubahan nilai AOD harian, perhitungan rata-rata bulanan, serta pemetaan distribusi spasial aerosol. Melalui rangkaian pengamatan tersebut, perubahan beban aerosol dapat dibandingkan antarlokasi dan antarwaktu.
Analisis harian berguna untuk mengamati perubahan kondisi atmosfer dalam rentang waktu pendek. Sementara itu, rata-rata bulanan dapat membantu memperlihatkan pola yang lebih luas selama periode pengamatan. Peta distribusi spasial digunakan untuk mengetahui wilayah yang menunjukkan nilai AOD relatif tinggi dibandingkan daerah di sekitarnya.
Namun, data satelit tidak selalu menyediakan estimasi untuk setiap piksel dan setiap waktu pengamatan. Kualitas piksel dan tutupan awan menjadi faktor penting yang harus diperiksa sebelum hasil analisis digunakan.
“Namun, kualitas piksel dan tutupan awan harus diperhatikan. Pada wilayah tropis, awan sering menyebabkan tidak tersedianya estimasi AOD. Ketiadaan data bukan berarti atmosfer bebas aerosol,” tambah Dian.
Keterbatasan tersebut penting diperhatikan ketika peneliti menyusun peta dan deret waktu aerosol. Piksel yang tidak memiliki estimasi AOD tidak dapat langsung ditafsirkan sebagai wilayah dengan kondisi udara bersih. Tidak tersedianya data bisa berkaitan dengan kondisi pengamatan, termasuk tutupan awan.
Oleh karena itu, analisis perlu memperhatikan kualitas data dan kesinambungan pengamatan. Penggabungan data dari beberapa sumber juga dapat membantu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi aerosol di wilayah yang dikaji.
Data Karhutla di Sumatra dan Kalimantan pada 2026
Karhutla telah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia sejak awal 2026. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan luas areal yang terbakar secara nasional mencapai sekitar 202 ribu hektare selama Januari hingga Juli 2026.
Dampak kebakaran terhadap kejernihan atmosfer juga terlihat dari pengamatan jarak pandang pada sejumlah kota. Pada 29 Agustus, pengamatan BMKG yang dilaporkan Kementerian Kehutanan mencatat jarak pandang di Jambi dan Pontianak sekitar 800 meter. Sementara itu, jarak pandang di Pekanbaru tercatat sekitar 2.500 meter.