Pendekatan berbasis data tersebut juga diperlukan agar langkah mitigasi tidak hanya mengandalkan pengalaman setelah banjir terjadi. Informasi mengenai topografi, tanah, aliran, dan sedimen perlu ditempatkan dalam satu kerangka analisis untuk memahami ancaman secara lebih menyeluruh.
Dian mengingatkan bahwa tanah mempunyai fungsi penting dalam sistem hidrologi. Tanah bukan sekadar tempat tumbuh tanaman, melainkan juga berperan dalam proses masuknya air ke dalam tanah, penyimpanan air, pembentukan limpasan, dan erosi.
“Banjir Padang mengingatkan bahwa tanah bukan sekadar media tumbuh tanaman, melainkan bagian penting sistem hidrologi yang mengatur infiltrasi, penyimpanan air, limpasan, dan erosi,” sebutnya.
Kota Padang tidak dapat mengubah bentang alam pegunungan dan jaringan sungai yang membentuk wilayahnya. Namun, pengurangan risiko banjir dapat diupayakan melalui pengelolaan DAS, penataan ruang yang mempertimbangkan ancaman bencana, penguatan sistem peringatan dini, serta kesiapsiagaan masyarakat.
“Banjir mungkin tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi kerusakan dan korban akibat banjir bukan sesuatu yang harus terus berulang tanpa upaya pencegahan,” tutup Dian. (*)