Hasil analisis Demnas menunjukkan adanya perbedaan topografi yang cukup besar di Kota Padang. Bagian timur yang didominasi kawasan pegunungan memiliki elevasi mencapai sekitar 1.864 meter. Sementara itu, bagian barat merupakan kawasan dataran rendah yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.
Perbedaan ketinggian tersebut menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana air bergerak di wilayah Padang. Air hujan yang jatuh di daerah berketinggian dapat mengalir menuruni lereng, masuk ke lembah, kemudian terkumpul dalam jaringan sungai yang mengarah ke kawasan lebih rendah.
Pengolahan Demnas dengan resolusi analisis 30 meter juga memperlihatkan bahwa sekitar 48,84 persen wilayah daratan valid dalam cakupan raster mempunyai kemiringan lereng lebih dari 15 derajat.
Kondisi yang lebih menonjol terlihat pada zona elevasi 500–1.000 meter. Di kawasan tersebut, sekitar 78,66 persen wilayah memiliki kemiringan lebih dari 15 derajat.
Meski demikian, kedua persentase itu menggambarkan kondisi regional dalam cakupan data Demnas yang dianalisis. Angka tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai persentase kondisi lereng di daerah aliran sungai (DAS) Batang Kuranji ataupun Batang Aia Dingin secara khusus.
Dian menerangkan, lereng yang curam dapat memengaruhi kecepatan air berkumpul menuju lembah ketika hujan deras terjadi. Namun, besarnya limpasan tidak hanya ditentukan oleh kemiringan permukaan tanah.
“Secara hidrogeomorfologi, lereng curam berpotensi mempercepat konsentrasi aliran menuju lembah ketika hujan lebat. Namun, besarnya limpasan juga ditentukan oleh intensitas hujan, infiltrasi tanah, tutupan vegetasi, dan kondisi kelembapan tanah sebelumnya,” tambahnya.
Dengan demikian, karakteristik topografi perlu dibaca bersama faktor lain yang menentukan kemampuan suatu kawasan menyerap, menyimpan, dan mengalirkan air hujan.