Banjir Padang Berulang, Pakar Unand Ungkap Peran Pegunungan dan Sedimen

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:34 WIB
Banjir merendam kawasan perumahan Lumin Park, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Instagram/sitinjau_lauik)
Banjir merendam kawasan perumahan Lumin Park, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Instagram/sitinjau_lauik)


Sumbardaily.com – Banjir yang kembali menerjang Kota Padang pada Sabtu (10/10/2026) memperlihatkan kompleksitas ancaman bencana di wilayah tersebut. Genangan yang memasuki Perumahan Lumin Park di Lubuk Minturun dan Kampung Guo, Kecamatan Kuranji, tidak hanya berkaitan dengan hujan lebat, tetapi juga dipengaruhi kondisi topografi, jaringan sungai, karakteristik tanah, serta pergerakan sedimen dari kawasan pegunungan menuju dataran rendah.





Peristiwa ini menjadi perhatian karena banjir kembali terjadi di lokasi yang sebelumnya pernah terdampak. Di Perumahan Lumin Park, misalnya, banjir serupa terjadi pada 26–27 November 2025. Saat itu, air membawa material dari kawasan hulu. Belum genap setahun berselang, banjir kembali memasuki kawasan permukiman tersebut.





Berdasarkan pengamatan lapangan pada kejadian Oktober 2026, ketinggian air di Lumin Park mencapai sekitar 1,5 meter. Sejumlah kendaraan bahkan terseret arus menuju bagian belakang kompleks yang berdekatan dengan sungai.





Kejadian berulang ini menjadi dasar untuk menelaah hubungan antara karakteristik wilayah hulu dan kondisi permukiman di hilir. Prof. Dian Fiantis, dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas (Unand), menjelaskan bahwa pemahaman mengenai banjir membutuhkan analisis yang mencakup kondisi alam secara menyeluruh.





“Mengapa banjir berulang terjadi pada lokasi yang sama? Jawabannya memerlukan pemahaman mengenai hubungan antara curah hujan, bentuk permukaan bumi, pergerakan air, dan material sedimen dari pegunungan menuju dataran rendah,” ujarnya, dikutip dari Kepakaran Unand, Kamis (15/10/2026).





Topografi Padang Memperlihatkan Perbedaan Ketinggian yang Besar





Untuk memahami potensi aliran air dari kawasan pegunungan menuju permukiman, karakteristik permukaan bumi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Dian menjelaskan, Digital Elevation Model Nasional (Demnas) dapat digunakan untuk mempelajari topografi secara kuantitatif.





Data tersebut memungkinkan analisis terhadap elevasi atau ketinggian wilayah, kemiringan lereng, bentuk lembah, hingga jalur yang berpotensi menjadi tempat berkumpulnya aliran air.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X