Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi bulanan paling tinggi, yakni 1,11 persen. Setelah itu terdapat Kabupaten Dharmasraya dengan inflasi 1,03 persen, Kota Bukittinggi 0,98 persen, dan Kota Padang 0,33 persen.
Inflasi tahunan seluruh kelompok
Jika dilihat secara tahunan atau year-on-year (Y-on-Y), seluruh kelompok pengeluaran di Sumatera Barat mengalami inflasi pada September 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi umum. Kelompok tersebut memberikan andil sebesar 1,38 persen terhadap inflasi tahunan Sumatera Barat.
Kondisi serupa juga terlihat pada seluruh wilayah cakupan IHK. Keempat wilayah tersebut sama-sama mencatat inflasi secara tahunan.
Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi Y-on-Y tertinggi, yakni 4,42 persen. Sementara inflasi tahunan terendah terjadi di Kota Padang sebesar 3,33 persen.
Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi tahunan sebesar 3,56 persen. Adapun Kota Bukittinggi mengalami inflasi Y-on-Y sebesar 3,43 persen.
Data tersebut menunjukkan perbedaan tekanan harga di masing-masing wilayah Sumatera Barat. Dharmasraya mencatat laju inflasi tahunan paling tinggi, sedangkan Padang berada pada posisi terendah di antara empat wilayah cakupan IHK.
NTP petani ikut meningkat
Di tengah kenaikan harga konsumen, indikator kesejahteraan petani juga menunjukkan pergerakan positif. BPS Sumatera Barat mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2026 mencapai 133,58.