Pengunjung perlu dilibatkan sebagai bagian dari cerita sebuah kota. Foto, video pendek, serta ulasan spontan yang dibuat wisatawan di media sosial mereka dapat berperan dalam membentuk citra kota.
Konten yang dibuat langsung oleh wisatawan bahkan dapat menjadi bagian dari pengalaman komunikasi pariwisata karena memperlihatkan pengalaman yang mereka rasakan secara langsung.
Namun, Revi mengingatkan bahwa ketergantungan pada generasi muda juga dapat membuat identitas kota menjadi terlalu sempit. Kota yang ingin mempertahankan identitas dalam jangka panjang perlu menyediakan keragaman pengalaman, bukan hanya mengandalkan lokasi yang sedang menjadi tren untuk berfoto.
Ruang yang memiliki nilai sejarah, edukasi, dan budaya lokal juga perlu menjadi bagian dari identitas tersebut.
Perpaduan antara wisata alam, situs bersejarah, dan agenda kegiatan yang beragam, seperti festival, pertunjukan seni, serta kegiatan komunitas, dapat membuat identitas kota menjadi lebih berlapis.
Dengan demikian, kota tidak hanya mengandalkan satu daya tarik. Identitas yang lebih beragam juga dapat menjangkau wisatawan dengan usia, latar belakang, dan tujuan kunjungan yang berbeda.
Identitas Kota Dibangun Bersama
Revi menilai pembangunan identitas kota bukan semata-mata tugas pemerintah daerah. Pelaku wisata, akademisi, dan masyarakat juga memiliki peran dalam proses tersebut, termasuk di kota-kota Sumatera Barat maupun daerah lain di Indonesia.
Membangun identitas kota bukan proyek yang selesai ketika sebuah objek wisata diresmikan. Proses tersebut membutuhkan komunikasi yang terus berlangsung.