Padahal, karakteristik wisatawan seperti usia, jenis kelamin, asal daerah, tingkat pendidikan, pekerjaan, hingga tingkat pendapatan dapat menjadi bahan untuk merancang pesan komunikasi yang lebih tepat.
Data tersebut, katanya, bukan hanya bahan untuk laporan tahunan yang kemudian disimpan dalam arsip. Data wisatawan seharusnya digunakan sebagai dasar dalam menentukan cara daerah berkomunikasi dengan calon pengunjung.
Dari berbagai destinasi wisata baru di Indonesia, terdapat pola yang cukup konsisten. Kunjungan ke destinasi yang sedang naik daun banyak didominasi anak muda, terutama kelompok usia sekitar 20-30 tahun.
Kelompok ini memiliki cara berbeda dalam mencari informasi wisata dan menentukan tujuan perjalanan dibandingkan generasi sebelumnya. Brosur pariwisata resmi maupun iklan di media cetak disebut nyaris tidak menjadi faktor utama bagi mereka.
Sebaliknya, unggahan media sosial, rekomendasi teman, dan pengalaman visual yang dapat dibagikan kembali menjadi hal yang lebih menentukan.
Bagi kelompok usia tersebut, tempat wisata tidak hanya perlu indah. Destinasi juga harus "layak difoto", memiliki cerita yang menarik untuk dibagikan, serta memberikan pengalaman yang dianggap autentik dan tidak sekadar seremonial.
Wisatawan Jadi Bagian dari Cerita Kota
Pemahaman terhadap karakter wisatawan tersebut, menurut Revi, seharusnya turut mengubah pola komunikasi pemerintah daerah. Jika generasi muda menjadi salah satu target utama, komunikasi satu arah dari pemerintah kepada publik tidak lagi cukup.