Sumbardaily.com – Identitas sebuah kota wisata tidak cukup dibangun melalui objek wisata, ruang publik, tugu, atau infrastruktur yang diperindah. Di balik pembangunan fisik tersebut, diperlukan cerita yang konsisten agar sebuah kota memiliki citra yang kuat dan mudah dikenali wisatawan.
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas (Unand), Revi Marta, menilai komunikasi menjadi fondasi penting dalam membangun identitas kota wisata. Menurutnya, pemerintah daerah perlu terlebih dahulu memahami siapa wisatawan yang datang dan apa yang mereka cari sebelum menentukan strategi komunikasi pariwisata.
"Coba pikirkan pertanyaan sederhana ini: siapa sebenarnya yang datang berkunjung ke kota Anda, dan apa yang sebenarnya mereka cari?" kata Revi, dilansir dari Kepakaran Unand, Minggu (20/9/2026).
Menurutnya, pertanyaan tersebut menjadi penting karena jawabannya akan menentukan arah sebuah kota dalam membangun identitas untuk jangka panjang. Selama ini, pariwisata di sejumlah daerah, termasuk beberapa kota di Sumatera Barat (Sumbar), masih kerap dipandang sebagai persoalan pembangunan fisik.
Pembangunan objek wisata, penataan ruang publik, hingga pemasangan papan penanda dinilai belum cukup untuk membentuk identitas sebuah kota.
"Identitas kota tidak lahir dari beton dan cat tembok. Ia lahir dari cerita: bagaimana sebuah tempat bicara tentang dirinya sendiri, dan siapa yang benar-benar mau mendengarkan," ujarnya.
Revi menjelaskan, persoalan tersebut terasa bagi kota-kota yang sedang berusaha keluar dari citra lama dan membangun wajah baru sebagai destinasi wisata. Tidak semua kota memiliki modal sejarah yang sama besar. Begitu pula dengan kejelasan mengenai arah narasi yang hendak dibangun pemerintah daerah.