Aspek drainase turut menjadi perhatian dalam rencana pembangunan. Hal itu berkaitan dengan kondisi lahan di sepanjang jalur yang di kanan dan kirinya banyak terdapat area pertanian.
Karena itu, pembangunan bypass tidak hanya berkaitan dengan penyediaan jalur kendaraan. Infrastruktur pendukung juga perlu disiapkan agar jalan dapat berfungsi dengan baik sekaligus menyesuaikan kondisi lingkungan di sekitar trase.
Masyarakat Minta Tanah Ulayat Tetap Diperhatikan
Rencana pembangunan bypass dan exit tol juga mendapat perhatian dari masyarakat adat. Ketua KAN Batu Palano Editiawarman mengatakan masyarakat pada dasarnya dapat menerima pembangunan tersebut karena melihat adanya potensi manfaat ekonomi.
Namun, penerimaan tersebut disertai harapan agar pembangunan tetap memperhatikan tanah ulayat dan lahan produktif milik masyarakat Batu Palano.
Editiawarman juga menyoroti kawasan bekas Pasar Amor yang dinilai memiliki arti penting bagi nagari. Menurut dia, lahan bekas pasar tersebut memiliki luas sekitar lima hektare dan merupakan tanah ulayat yang saat ini sedang diupayakan untuk dikembalikan kepada anak nagari.
Tidak hanya itu, pihak nagari disebut telah mempunyai rencana untuk mengembangkan kawasan tersebut sebagai lokasi pendidikan tinggi. Kondisi itu membuat rencana penempatan exit tol di kawasan bekas Pasar Amor perlu dibahas secara khusus bersama masyarakat nagari.
“Kalau masalah exit tol, kami juga sangat setuju. Tapi kami sangat mengharapkan sosialisasinya betul-betul sampai ke Nagari Batu Palano,” katanya.