Selain penanganan di lapangan, Presiden juga menekankan edukasi kepada masyarakat sampai tingkat desa. Penguatan penegakan hukum terhadap setiap indikasi pembakaran secara sengaja juga menjadi perhatian, termasuk jika aktivitas tersebut melibatkan korporasi.
Persoalan karhutla juga berdampak pada kondisi udara di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kategori baik hingga sedang.
Namun, sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan menunjukkan kualitas udara pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, beberapa bagian Kalimantan masih terpantau berada dalam kategori berbahaya.
Kondisi tersebut sejalan dengan pemantauan BMKG yang menemukan udara kabur di sejumlah wilayah.
Di Pontianak, kondisi udara kabur tercatat dengan jarak pandang sekitar 3 kilometer pada dini hari 13 September. Sementara di Banjarmasin, jarak pandang berada di sekitar 2 kilometer dengan kondisi udara kabur.
Di Sumatera Selatan, prakiraan BMKG untuk wilayah Tanjung Api-Api menunjukkan jarak pandang pada dini hingga pagi hari 13 September sempat berada di kisaran 2-4 kilometer.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak partikulat dan udara kabur masih harus diwaspadai meskipun jumlah hotspot dapat berubah dari hari ke hari.