Meski terdapat perkembangan positif di sejumlah daerah, kewaspadaan masih dipertahankan. Kondisi kebakaran hutan dan lahan dapat berubah dengan cepat mengikuti faktor cuaca serta kondisi bahan bakar yang tersedia di lapangan.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan setiap hotspot dengan satu kejadian kebakaran. Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit.
Satu kejadian kebakaran bahkan dapat menghasilkan beberapa hotspot dalam pemantauan satelit. Karena itu, setiap indikasi yang terdeteksi tetap membutuhkan verifikasi melalui pengecekan langsung di lapangan atau groundcheck.
"Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada wilayah yang masih menunjukkan konsentrasi hotspot tinggi," keterangan Kementerian Kehutanan dikutip Jumat (11/9/2026).
Pengendalian karhutla dilakukan secara bersama-sama. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bekerja bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta berbagai pihak lainnya.
Langkah yang dilakukan mencakup patroli, groundcheck, pemadaman secara langsung, penyekatan untuk menghentikan penjalaran api, mopping up, hingga pendinginan. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan titik api dapat dikendalikan sekaligus mencegah kebakaran kembali meluas.
Dukungan melalui operasi udara juga disiapkan di enam provinsi prioritas. Total terdapat 53 unit armada udara yang dikerahkan untuk mendukung pengendalian karhutla di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 34 armada lainnya digunakan dalam operasi water bombing.