Indonesia memiliki banyak kawasan pertanian produktif yang berkembang di atas material vulkanik. Kesuburan tersebut tidak muncul secara langsung setelah erupsi.
Kesuburan merupakan hasil interaksi panjang antara material vulkanik, iklim, organisme, relief, dan waktu. Krakatau memperlihatkan proses tersebut dalam skala yang dapat diamati.
Anak Krakatau menggambarkan tahap awal perjalanan. Pulau-pulau yang lebih tua memperlihatkan perubahan yang dapat dilakukan oleh puluhan hingga ratusan tahun pelapukan dan kehidupan. Sementara itu, jejak Krakatau Purba menunjukkan bahwa bentang alam saat ini hanyalah satu bagian dari sejarah geologi yang jauh lebih panjang.
Karena itu, aktivitas Anak Krakatau yang kembali menarik perhatian tidak hanya penting dilihat dari sisi kebencanaan. Setiap lapisan abu, lapili, dan lava yang ditambahkan gunung tersebut juga menjadi bahan baru bagi bentang alam masa depan.
Manusia melihat erupsi dalam ukuran waktu yang relatif pendek, seperti menit, hari, atau tahun. Tanah memiliki ukuran waktunya sendiri.
Di Kepulauan Krakatau, kedua skala waktu itu dapat dibaca bersamaan. Gunung api dapat mengubah bentang alam dengan sangat cepat, sedangkan proses pembentukan tanah berlangsung perlahan setelahnya.
Gunung dapat menghancurkan bentang alam dalam hitungan jam. Setelah itu, kehidupan kembali hadir, mineral mengalami pelapukan, akar mulai tumbuh, karbon terakumulasi, dan tanah terbentuk.
Krakatau Purba hingga Anak Krakatau memperlihatkan bahwa ketika sebuah letusan berakhir, proses alam sebenarnya belum selesai. Bagi tanah, material yang ditinggalkan erupsi justru menjadi awal perjalanan baru. (*)