"Di dalam mineral vulkanik tersimpan berbagai unsur seperti kalsium, magnesium, kalium, dan unsur lainnya. Unsur-unsur itu belum semuanya tersedia bagi tanaman. Waktu, air, suhu, organisme, dan proses kimia harus bekerja untuk melepaskannya," jelasnya.
Setelah material berada di permukaan, air hujan mulai memasuki pori-pori material vulkanik. Mineral kemudian mengalami reaksi kimia. Sebagian unsur terlarut dilepaskan, sementara unsur lain membentuk mineral baru.
Mikroorganisme mulai datang. Lumut dan tumbuhan pionir berkembang. Akar tanaman menembus material, kemudian sisa tanaman yang mati mengalami dekomposisi. Karbon pun mulai masuk ke dalam sistem.
"Perlahan-lahan material geologi berubah menjadi tubuh tanah yang hidup," kata Dian.
Tanah Menyimpan Rekaman Waktu
Proses pembentukan tanah tersebut dapat dibandingkan dengan tanah pada bagian Kepulauan Krakatau yang lebih tua.
Penelitian tanah di kawasan tersebut menunjukkan setelah beberapa dasawarsa, proses pedogenesis mulai meninggalkan tanda yang dapat diukur. Akumulasi humus meningkat dan komposisi kimia material mengalami perubahan.
Unsur-unsur yang relatif mudah tercuci berkurang, sedangkan besi dan aluminium relatif terakumulasi.
Perubahan itu menunjukkan bahwa tanah bukan terbentuk dalam waktu singkat. Prosesnya merupakan perjalanan panjang yang dipengaruhi material vulkanik, iklim, organisme, relief, serta waktu.