Dengan membandingkan material sangat muda Anak Krakatau dengan permukaan yang lebih tua di Sertung, Panjang, atau Rakata, pengaruh waktu terhadap material vulkanik dapat dibaca.
Namun, jam pembentukan tanah di Anak Krakatau tidak selalu berjalan mulus.
Erupsi yang terus terjadi membuat permukaannya berulang kali menerima material baru. Vegetasi yang mulai tumbuh dapat kembali tertutup abu atau material piroklastik. Tanah muda yang baru berkembang juga dapat terkubur kembali.
Keruntuhan besar pada Desember 2018 bahkan mengubah morfologi Anak Krakatau secara drastis.
Dalam perspektif pedologi, kondisi tersebut dapat dipandang sebagai semacam pengaturan ulang jam pembentukan tanah. Ketika permukaan baru muncul, material segar kembali menjadi titik awal proses pelapukan dan kolonisasi kehidupan.
Abu Vulkanik Hari Ini, Tanah di Masa Depan
Bagi masyarakat, abu vulkanik tentu lebih dikenal sebagai ancaman. Abu dapat mengganggu pernapasan, transportasi, penerbangan, pertanian, sumber air, serta kehidupan masyarakat dalam waktu singkat.
Namun, dalam rentang waktu yang lebih panjang, material tersebut memiliki peran berbeda. Material yang menjadi bencana hari ini dapat menjadi bahan induk tanah pada masa mendatang.