The Odyssey menjadi narasi universal mengenai manusia.
Setiap orang memiliki "Troya" yang harus ditinggalkan, "lautan" yang harus diseberangi, "Siren" yang harus dihindari, dan "Ithaca" yang ingin dicapai.
Odysseus tidak pernah keluar dari setiap ujian sebagai pribadi yang sama. Setiap kehilangan membentuk kebijaksanaannya. Setiap kegagalan mengikis kesombongannya. Setiap penantian mengajarkan kesabaran.
Karena itu, The Odyssey melampaui statusnya sebagai cerita petualangan. Ia menjadi narasi tentang transformasi diri manusia yang sesungguhnya. Hal tersebut juga menjadi inti perjalanan suluk.
Pada akhirnya, suluk mengajarkan bahwa perjalanan menuju Tuhan selalu melewati perjalanan menuju diri sendiri. Sementara The Odyssey menunjukkan bahwa tidak ada kepulangan yang sejati tanpa perubahan batin.
Ketika dua tradisi yang lahir dari ruang dan zaman berbeda tersebut dipertemukan, muncul pesan yang sama: badai bukan untuk menenggelamkan manusia, godaan bukan untuk memastikan manusia kalah, dan perjalanan bukan sekadar untuk menghabiskan waktu.
Semuanya menjadi cara kehidupan membentuk manusia agar layak sampai di tujuan. (*)