Mencari Rumah, Menemukan Diri: Membaca Simbol The Odyssey dari Perspektif Suluk

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Kamis, 3 September 2026 | 23:54 WIB
Cover adaptasi terbaru film The Odyssey (Foto: Istimewa)
Cover adaptasi terbaru film The Odyssey (Foto: Istimewa)




Popularitas yang membutakan, budaya konsumtif, ambisi yang tidak mengenal batas, validasi media sosial, hasrat seksual, hingga keinginan untuk selalu terlihat berhasil di hadapan orang lain dapat menjadi bentuk godaan manusia modern.





Godaan terbesar pada zaman ini tidak selalu berupa kejahatan yang terlihat jelas. Sesuatu yang menarik dan tampak masuk akal juga dapat membuat seseorang kehilangan arah.





Banyak orang kehilangan fokus dan bahkan menghancurkan diri sendiri bukan karena dipaksa, tetapi karena tergoda.





Di sinilah pesan The Odyssey dinilai tetap aktual. Odysseus selamat bukan karena merasa kebal terhadap godaan, melainkan karena menyadari kelemahannya.





Ia meminta dirinya diikat pada tiang kapal agar tidak mengikuti suara Siren.





Kesadaran atas keterbatasan diri tersebut justru menjadi bentuk kebijaksanaan. Dalam tradisi tasawuf terdapat prinsip serupa, yakni kerendahan hati untuk mengakui kelemahan menjadi langkah awal menuju kematangan spiritual.





Cyclops dan Bahaya Cara Pandang yang Sempit





Simbol lain yang menarik dalam The Odyssey adalah Cyclops, raksasa bermata satu yang dihadapi Odysseus.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X