Sumbardaily.com – Rumah tidak selalu sekadar bangunan tempat seseorang tinggal. Rumah dapat berarti keluarga yang menunggu kepulangan, kampung halaman yang terus dirindukan, hingga ruang batin tempat seseorang merasa utuh. Gagasan tentang rumah dan perjalanan pulang itulah yang dapat ditemukan dalam The Odyssey, karya epik Yunani yang kembali mendapat perhatian luas melalui adaptasi film terbarunya.
Dosen Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas (Unand), Shilva Lioni, melihat The Odyssey bukan hanya sebagai kisah kepahlawanan Odysseus setelah Perang Troya. Menurutnya, perjalanan panjang sang tokoh utama menuju Ithaca juga dapat dibaca sebagai perjalanan menemukan diri sendiri.
The Odyssey merangkum 10 tahun perjalanan pulang Odysseus pascaperang Troya. Perjalanan tersebut dipenuhi kemalangan sekaligus pembelajaran. Di balik petualangan, peperangan, dan monster-monster mitologis, tersimpan refleksi mengenai pengalaman manusia dalam mencari jalan pulang.
Selama ini, The Odyssey lebih sering dipahami sebagai kisah kepahlawanan Odysseus yang berjuang kembali ke Ithaca setelah Perang Troya. Pembacaan tersebut tidak keliru, tetapi menurut Shilva belum sepenuhnya lengkap.
Sebab, apabila tujuan utama perjalanan Odysseus hanya kembali ke rumah, muncul pertanyaan mengapa perjalanan itu harus berlangsung begitu lama. Jalan pulang justru dipenuhi badai, godaan, kehilangan sahabat, penyesalan, hingga kesendirian.
Pertanyaan tersebut membuka kemungkinan pembacaan yang lebih dalam. Perjalanan menuju rumah bukan hanya tentang menempuh jarak geografis, tetapi juga tentang perubahan kualitas batin manusia.
Jika dibaca melalui perspektif semiotika, The Odyssey tidak hanya menghadirkan rangkaian peristiwa, tetapi membangun sistem tanda (system of signs) yang mengarahkan pembaca pada makna di luar cerita literal.