Besarnya konsentrasi masyarakat miskin di kawasan tersebut dipengaruhi tingginya ketergantungan warga terhadap sektor pertanian dan perikanan tradisional yang memiliki nilai tambah ekonomi rendah.
Persoalan yang terjadi di kawasan itu tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan masyarakat, tetapi juga menyangkut struktur ekonomi lokal yang belum berkembang secara optimal.
Menurut Suryatmono, pembangunan ekonomi masyarakat harus mulai diarahkan pada peningkatan nilai tambah produk lokal agar masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
“Pembangunan ekonomi masyarakat harus diarahkan pada peningkatan nilai tambah. Produk pertanian dan perikanan jangan hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi perlu didorong ke arah hilirisasi dan pengolahan agar masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.
Selain penguatan sektor ekonomi produktif, peningkatan keterampilan kerja masyarakat juga dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Pelatihan berbasis potensi lokal dianggap penting untuk membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja masyarakat.
Dalam konteks pembangunan daerah, DTSEN disebut memiliki peran strategis sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Pendekatan berbasis data mikro by name by address memungkinkan pemerintah daerah melakukan penajaman sasaran program secara lebih akurat.
Menurut Suryatmono, penggunaan data yang valid dan aktual menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan pengentasan kemiskinan di masa mendatang.
“Perencanaan pembangunan harus berbasis data yang valid dan aktual. Dengan DTSEN, pemerintah daerah dapat mengetahui secara detail lokasi, karakteristik, dan kondisi masyarakat yang menjadi sasaran program,” katanya.