Siapa pun yang membaca putusan Pengadilan Agama akan melihat pola yang sama, alasan cerai hampir selalu diringkas dengan bahasa yang sangat umum.
Kata-kata seperti “tidak harmonis,” “sering bertengkar,” “tidak bertanggung jawab,” atau “tidak ada kecocokan” menguasai dokumen resmi. Hampir mustahil menemukan istilah “ketidakpuasan seksual” tertulis secara formal.
Padahal, dalam praktiknya, para konselor, mediator, dan beberapa peneliti yang mewawancarai pihak-pihak yang bercerai mencatat bahwa masalah ranjang sering menjadi pemicu awal konflik suami istri.
Penelitian berjudul Women in the Search of Sexual Pleasure yang mengkaji kasus perempuan di Pengadilan Agama, misalnya, menggambarkan bagaimana sejumlah istri mengajukan gugatan cerai karena merasa tidak puas dengan kehidupan seksual mereka.
Tabu yang Menghilangkan Akar Masalah
Ketidakmampuan membicarakan seks secara dewasa menyebabkan penyebab penting perceraian ini “menghilang” dalam statistik nasional.
Ada tiga faktor utama yang membuat masalah ranjang hampir selalu disamarkan, yakni norma sosial dan rasa malu, formulir gugatan yang terlalu umum, dan masalah yang kompleks dan berlapis.
Ketika Emosi dan Intimasi Ikut Rapuh