Tapi di balik itu ada rantai kerja panjang, penuh ketelitian, dari survei seismik hingga pengeboran, dari lapangan hingga laboratorium. Di Sumatera Barat, aktivitas ini menjadi bagian dari lanskap sosial dan ekonomi baru.
Di salah satu titik di Kabupaten Solok Selatan, penulis pernah bertemu dan berbincang dengan seorang pemuda bernama Rionaldo, lulusan teknik mesin dari salah satu kampus vokasi ternama di Sumbar.
Ia kini bekerja sebagai teknisi di salah satu kontraktor hulu migas yang bermitra dengan SKK Migas. “Saya dulu tak pernah membayangkan bisa bekerja di sektor energi. Orang kampung saya kebanyakan bertani atau merantau. Tapi sekarang, saya bisa pulang dan tetap punya pekerjaan layak di kampung sendiri,” ucapnya.
Cerita Rendi bukan satu-satunya. Di berbagai kabupaten di Sumatera, kehadiran industri ini dinilai membuka peluang bagi generasi muda untuk menapaki karier yang sebelumnya terasa jauh.
Tak hanya dalam bidang teknik, tetapi juga logistik, administrasi, dan jasa pendukung lainnya. Inilah transformasi senyap yang jarang terdengar di berita nasional, tapi nyata dirasakan di tingkat lokal.
Namun, yang paling menarik bagi penulis bukan hanya angka atau proyek, melainkan perubahan sosial yang menyertainya. Di beberapa desa, saya menemukan inisiatif pendidikan yang tumbuh dari kerja sama antara perusahaan hulu migas dan masyarakat.
Misalnya, pelatihan keterampilan untuk ibu rumah tangga, bantuan beasiswa bagi pelajar berprestasi, hingga pelibatan warga dalam proyek padat karya seperti perawatan akses jalan dan penanaman pohon di area sekitar operasi.
Semua itu membuat masyarakat mulai melihat bahwa energi tidak hanya keluar dari sumur bor, tetapi juga dari semangat kolaborasi.