Sumbardaily.com – Hutama Karya mulai menggeser pendekatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) agar tidak berhenti pada kegiatan sosial semata. Perusahaan memetakan perencanaan TJSL lintas anak perusahaan dengan mengaitkannya pada risiko operasional dan strategi keberlanjutan bisnis.
Langkah tersebut dilakukan PT Hutama Karya (Persero) melalui Workshop & Focus Group Discussion (FGD) TJSL yang digelar di Habitare Rasuna, Jakarta, pada Kamis-Jumat, 10-11 September 2026.
Forum tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Salah satu agenda utama yang dibahas ialah penyelarasan perencanaan program TJSL dengan pemetaan risiko operasional perusahaan.
Selain itu, kegiatan tersebut diarahkan untuk merumuskan roadmap serta Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) TJSL Hutama Karya untuk 2027. Penyusunan tersebut menjadi langkah operasional dalam menerjemahkan visi baru perusahaan, yakni Leading Sustainable Construction Enterprise and Infrastructure Developer.
Melalui visi tersebut, aspek keberlanjutan ditempatkan sebagai bagian dari proses bisnis perseroan. Dengan demikian, TJSL tidak lagi diposisikan sebagai program pendamping yang berdiri sendiri, melainkan diintegrasikan dengan kebutuhan bisnis dan pengelolaan risiko operasional.
Pj. Executive Vice President (EVP) Human Capital Hutama Karya, Alfa Haga Rachmady, mengatakan penerapan nilai keberlanjutan dalam proses bisnis menjadi salah satu pilar penting perusahaan, terutama dalam menjalankan penugasan pembangunan infrastruktur nasional secara bertanggung jawab.
Menurut Alfa, penggunaan unsur sustainable dalam visi baru perusahaan juga membawa konsekuensi terhadap pola perencanaan TJSL. Program tersebut perlu disusun secara lebih terukur dan terintegrasi dengan strategi bisnis, bukan hanya mengandalkan pendekatan karitatif.