Peristiwa tersebut, katanya, juga menjadi sesuatu yang memalukan bagi Rumah Bagonjong, sebutan untuk Kantor Gubernur Sumbar.
Namun, penilaian tersebut merupakan pandangan Erianjoni dan bukan pernyataan resmi Pemprov Sumbar mengenai dampak kasus terhadap gubernur maupun institusi pemerintah provinsi.
Erianjoni kemudian juga menyoroti kemungkinan adanya pihak yang memperoleh keuntungan dari munculnya kasus tersebut.
Ia menduga, tanpa menyimpulkan sebagai fakta, pemasangan CCTV portabel bisa saja berkaitan dengan pihak yang tidak senang terhadap Cerry ketika masih menjabat Kabiro PBJ.
Menurut Sekretaris UNP tersebut, posisi Kabiro PBJ merupakan posisi yang strategis. Karena itu, kemungkinan adanya pihak yang berkepentingan terhadap posisi tersebut dinilai perlu ditelusuri.
Erianjoni bahkan mengingatkan agar sosok yang nantinya menggantikan Cerry M tidak serta-merta dikaitkan sebagai pihak di balik kasus hanya karena memperoleh posisi tersebut.
Andre Setiawan, yang kini ditunjuk sebagai Plh Kabiro PBJ, sebelumnya disebut pernah menjadi pesaing Cerry dalam perebutan posisi tersebut.
Namun, tidak ada keterangan yang membuktikan Andre memiliki keterkaitan dengan pemasangan CCTV maupun penyebaran rekaman.