Selain jumlah petani, luas lahan juga menjadi salah satu gambaran potensi produksi kelompok. Pendataan yang pernah dilakukan bersama PT Semen Padang dan tenaga ahli dari Solok Radjo mencatat luas lahan Kopi Bantjah mencapai sekitar 29 hektare.
Meski memiliki lahan yang mencapai puluhan hektare, produksi kelompok petani saat ini masih berada pada kisaran satu ton buah kopi merah atau cherry per tahun. Setelah melalui proses pengolahan menjadi green bean atau biji kopi hijau, jumlahnya diperkirakan sekitar 200 kilogram.
Perbedaan volume tersebut menggambarkan jumlah hasil yang tersedia setelah buah kopi diolah menjadi biji kopi hijau. Dengan kapasitas produksi yang masih terbatas, pengembangan produk turunan menjadi salah satu pendekatan yang ditempuh masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil perkebunan.
Pengembangan di sisi hilir juga membuka kesempatan untuk memanfaatkan kopi dalam berbagai bentuk produk. Selain menjual hasil panen, kelompok masyarakat mulai menjajaki pengolahan bahan baku menjadi makanan, minuman, serta produk kreatif yang dapat dipasarkan kepada konsumen.
Melalui pendekatan tersebut, pengembangan Kopi Bantjah melibatkan dua sisi kegiatan ekonomi. Sektor hulu bertumpu pada petani dan budidaya kopi, sedangkan sektor hilir mulai berkembang melalui pengolahan produk, pelatihan keterampilan, serta pemasaran di tingkat lokal. (*)