Nilai adat, agama, gotong royong, musyawarah serta tata krama dalam kehidupan bermasyarakat disebut sebagai bagian dari warisan yang tetap relevan untuk generasi sekarang.
“Belajar dari masa lalu bukan berarti terjebak di masa lalu. Nan elok dipakai, nan buruk dibuang. Dari sejarah kita belajar perjuangan, dari adat kita belajar nilai dan marwah, sementara dari masa lalu kita menemukan jati diri,” ungkapnya.
Ia berharap generasi muda semakin dekat dengan sejarah, adat dan budaya daerah. Dengan demikian, warisan Luhak Nan Tigo tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi tetap hidup dan dapat menjadi pedoman dalam membangun masa depan yang berbudaya, berilmu dan bermartabat.
Tampilkan foto hingga naskah kuno
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Datar Ermon Revlin yang juga menjadi ketua pelaksana mengatakan pameran menghadirkan sejumlah arsip yang berkaitan dengan sejarah, budaya, informasi pemerintahan dan perkembangan pembangunan Kabupaten Tanah Datar.
“Pameran ini menghadirkan arsip yang menggambarkan perjalanan Kabupaten Tanah Datar dari masa ke masa. Kami berharap masyarakat dapat mengenal, memahami dan menghargai sejarah daerah melalui arsip yang ditampilkan,” jelasnya.
Koleksi yang dipamerkan berasal dari sejumlah sumber. Di antaranya arsip foto dan peta koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Datar.
Selain itu, terdapat manuskrip serta naskah kuno yang bersumber dari masyarakat pecinta sejarah. Kehadiran koleksi tersebut memperlihatkan beragam bentuk arsip yang dapat digunakan untuk menelusuri perjalanan daerah.