“Melalui pameran ini, masyarakat tidak hanya membaca sejarah dari buku, tetapi dapat melihat secara langsung berbagai arsip yang menjadi bagian dari perjalanan daerah. Ini penting untuk membangun kesadaran sejarah sekaligus memperkuat identitas daerah,” katanya.
Ia menjelaskan, arsip yang terlihat sederhana pada masa sekarang dapat memiliki nilai informasi yang besar bagi generasi mendatang. Foto, dokumen dan manuskrip yang tersimpan dapat menjadi sumber untuk memahami berbagai peristiwa serta perkembangan daerah pada masa lalu.
Karena itu, Sri Mulyani mengajak perangkat daerah, lembaga pendidikan, pemerintahan nagari, organisasi dan tokoh adat untuk ikut menyelamatkan serta merawat arsip yang mempunyai nilai sejarah. Dokumentasi juga dinilai penting agar informasi yang tersimpan tidak hilang seiring waktu.
“Apa yang hari ini kita dokumentasikan akan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi selanjutnya. Karena itu, arsip harus diselamatkan dan dirawat, baik dalam bentuk fisik maupun digital,” tuturnya.
Dorong digitalisasi arsip
Sri Mulyani juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam pengelolaan arsip daerah. Upaya tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan maupun kehilangan dokumen bersejarah.
Menurutnya, pengelolaan arsip perlu menyesuaikan perkembangan teknologi. Dengan begitu, arsip tidak hanya terlindungi secara fisik, tetapi juga dapat lebih mudah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Arsip yang terkelola dengan baik dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran, penelitian, pengembangan kebudayaan hingga penguatan identitas daerah. Pemanfaatan teknologi juga membuat informasi sejarah memiliki peluang lebih besar untuk dikenal oleh generasi berikutnya.
Sri Mulyani menilai pelestarian sejarah tidak berarti mengajak masyarakat kembali hidup di masa lalu. Sejarah justru dapat menjadi sumber nilai yang digunakan untuk menghadapi kehidupan dan membangun masa depan.