Dia mengatakan investasi dalam kesiapsiagaan mungkin tidak terlihat hasilnya dalam kondisi normal. Namun, ketika bencana benar-benar terjadi, kesiapan tersebut dapat menentukan kecepatan masyarakat menyelamatkan diri, kecepatan pemerintah merespons, serta besarnya dampak yang dapat dikurangi.
“Kami dari BNPB menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kota Pariaman atas komitmen dan kerja keras dalam membangun kesiapsiagaan. Mari kita terus memperkuat kolaborasi pusat dan daerah, pemerintah dan masyarakat, serta seluruh pentahelix penanggulangan bencana,” ujarnya.
Rustian berharap pengalaman dari rangkaian gladi tersebut dapat memperkuat kesiapsiagaan Sumatera Barat dalam menghadapi bencana di masa mendatang.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyampaikan bahwa keberhasilan sebuah gladi tidak ditentukan oleh seberapa rapi skenario latihan dijalankan.
Menurutnya, ukuran penting dari gladi justru terletak pada pembelajaran yang dihasilkan setelah seluruh rangkaian latihan selesai. Evaluasi tersebut diperlukan untuk melihat bagian yang telah berjalan baik sekaligus menemukan aspek yang masih perlu diperbaiki.
“Dari kegiatan ini kita bisa melihat secara jernih apa yang telah kita uji, apa yang telah berjalan baik, dan apa yang masih harus kita perbaiki, sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan gladi simulasi ini,” sebut Buya.
Mahyeldi kemudian menyampaikan enam tindak lanjut yang harus dilakukan setelah rangkaian kegiatan Table Top Exercise (TTx), Command Post Exercise (CPx), dan Field Training Exercise (FTx).
Pertama, seluruh hasil evaluasi TTx, CPx, dan FTx harus didokumentasikan secara lengkap serta ditindaklanjuti.