Usai Gladi Gempa-Tsunami di Pariaman, Sumbar Didorong Benahi 6 Titik Kesiapan

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Kamis, 1 Oktober 2026 | 15:10 WIB
Gladi yang berlangsung selama dua hari, 29-30 September 2026, digelar di Lapangan Parkir Josal Football Academy, Dusun Sirambang, Desa Cubadak Air Utara, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman. (Foto: Pemko Pariaman)
Gladi yang berlangsung selama dua hari, 29-30 September 2026, digelar di Lapangan Parkir Josal Football Academy, Dusun Sirambang, Desa Cubadak Air Utara, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman. (Foto: Pemko Pariaman)




“Kami secara pribadi dan atas nama Pemerintah Kota Pariaman, menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya, kepada Sestama BNPB dan Gubernur Sumatera Barat, atas dilaksanakanya kegiatan Gladi Kesiapsiagaan Bencana Gempabumi Dan Tsunami Provinsi Sumatera Barat Tahun 2026 di Kota Pariaman ini,” kata Yota.





Dia berharap pelaksanaan gladi selama dua hari tersebut memberikan wawasan sekaligus pengalaman bagi pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.





Sementara itu, Sestama BNPB Rustian mengingatkan agar gladi tidak dijadikan sebagai tujuan akhir. Menurutnya, fungsi utama latihan adalah menemukan kesenjangan atau gap dalam sistem kesiapsiagaan yang selama ini dibangun.





“Kami (BNPB) memandang bahwa hasil gladi seperti ini harus menjadi input bagi perencanaan pembangunan dan penganggaran daerah. Temuan dari gladi harus diterjemahkan menjadi kebutuhan konkret. Dengan kata lain, kesiapsiagaan bukan sekadar kegiatan, tetapi harus menjadi bagian dari kebijakan pembangunan,” ulasnya.





Rustian juga menyoroti posisi masyarakat dalam penanggulangan bencana. Masyarakat disebut sebagai first responder atau pihak yang pertama kali berada paling dekat dengan lokasi kejadian pada menit-menit awal setelah gempa.





Karena itu, sistem penanggulangan bencana tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah. Pemerintah, TNI, Polri, BPBD, instansi teknis, rumah sakit, dunia usaha, relawan, hingga masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menghadapi kondisi darurat.





“Dalam beberapa menit pertama setelah terjadi gempa, masyarakatlah yang berada paling dekat dengan sumber kejadian. Oleh karena itu, kita tidak boleh membangun sistem penanggulangan bencana yang hanya bergantung kepada pemerintah,” tegas Rustian.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X