Saat Politik Masuk FYP: Gen Z dan Gen Alpha Jadi Sasaran Algoritma

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Kamis, 1 Oktober 2026 | 09:06 WIB




Selain itu, pengguna perlu mampu membedakan persona buatan atau simulacrum dengan rekam jejak yang sesungguhnya.





Dengan pemahaman tersebut, pengguna media sosial tidak hanya menjadi konsumen konten yang respons emosinya mudah diarahkan algoritma. Mereka diharapkan dapat berkembang menjadi warga digital yang memahami cara kerja platform yang mereka gunakan setiap hari.





Literasi digital pada akhirnya tidak cukup hanya mengajarkan seseorang untuk mengenali hoaks. Literasi juga perlu mencakup pemahaman tentang cara algoritma bekerja, bagaimana perhatian pengguna diarahkan, serta bagaimana citra politik dibentuk melalui konten digital.





Daya Kritis Tetap Jadi Pegangan





Demokrasi yang sehat bagi generasi mendatang, menurut Lusi, tidak semestinya terdegradasi menjadi arena adu estetika konten dan permainan algoritma.





Media sosial tetap dapat menjadi pintu masuk yang menyenangkan untuk mengenal politik. Namun, daya kritis, evaluasi terhadap program kerja, serta keberanian mempertanyakan kekuasaan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokratis.





Karena itu, konten politik yang muncul di FYP tidak harus selalu ditolak. Hiburan tetap dapat dinikmati, tetapi pengguna perlu melihat lebih jauh dari sekadar tampilan yang lucu, menarik, atau estetik.





"Lain kali konten politisi yang kocak atau estetik lewat di FYP-mu, nikmati saja hiburannya. Tapi setelah itu, coba tanya ke diri sendiri: di balik gimik lucu ini, gagasan dan rekam jejak apa yang sebenarnya sedang mereka sembunyikan?" demikian pesan yang ditekankan Lusi.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X