"Anak muda tidak lagi disapa sebagai warga negara yang kritis, melainkan diperlakukan sebagai target konsumen yang emosi dan seleranya bisa diarahkan lewat penargetan algoritmik yang presisi," demikian gagasan yang disampaikan Lusi dalam melihat fenomena tersebut, dilansir dari Kepakaran Unand, Kamis (1/10/2026).
Gen Z dan Gen Alpha Hidup dalam Ekosistem Layar
Fenomena ini menjadi penting karena Gen Z dan Gen Alpha merupakan generasi digital natives. Sebagian besar cara mereka memahami dunia berlangsung melalui layar ponsel.
Filsuf Byung-Chul Han dalam Psychopolitics (2017) menjelaskan bahwa kekuasaan pada zaman modern tidak lagi selalu bekerja melalui represi atau intimidasi fisik. Kekuasaan dapat masuk ke alam bawah sadar melalui kesenangan dan konten yang membuat seseorang merasa nyaman serta terhibur.
Kondisi tersebut kemudian berkaitan dengan munculnya politainment, yakni politik yang dibungkus dalam format hiburan. Ketika politik semakin dekat dengan konten hiburan, batas antara edukasi politik dan pembodohan yang berkedok konten lucu menjadi semakin kabur.
Perbedaan konten politik yang muncul pada FYP seseorang dengan pengguna lain juga tidak terlepas dari penargetan algoritmik. Platform media sosial merangkum berbagai jejak digital anak muda.
Jejak tersebut dapat berupa durasi menonton, konten yang dibagikan di grup obrolan, hingga sound yang paling sering disimpan. Data itu kemudian diolah untuk menghadirkan konten yang disesuaikan secara personal.
Dengan mekanisme tersebut, platform dapat memetakan hal-hal yang membuat pengguna Gen Z dan Gen Alpha tertarik, tertawa, maupun merasa terhubung.
Politik Dikemas Seperti Permainan
Perubahan cara politik dikonsumsi juga terlihat melalui gamifikasi. Isu-isu besar seperti kebebasan berpendapat, krisis iklim, hingga transparansi anggaran publik dapat dianggap terlalu berat untuk format video pendek.