"Mungkin suatu hari mereka bisa berkomunikasi dengan wisatawan, memperkenalkan daerahnya, membantu menunjukkan arah, atau bahkan bekerja di bidang pariwisata. Jadi belajar Bahasa Inggris bukan hanya tentang menghafalkan kosakata, tetapi membuka jendela kesempatan bagi mereka," ujarnya.
Namun, proses tersebut tidak langsung berjalan mudah. Ketika mulai mengajar, Dika mendapati Bahasa Inggris masih tergolong hal yang relatif baru bagi para siswa. Kosakata sederhana, seperti nama-nama benda dan sapaan, belum menjadi bagian dari keseharian mereka.
Kondisi itu juga terlihat dari keberanian siswa ketika diminta mengucapkan kata-kata baru. Sebagian anak masih merasa malu dan memilih untuk tidak berbicara karena khawatir salah.
Dika kemudian mencoba mengubah pola pembelajaran agar siswa tidak hanya berhadapan dengan materi dan hafalan, tetapi memiliki pengalaman langsung dalam menggunakan Bahasa Inggris.
Belajar Bahasa Inggris Lewat Karya dan Penampilan
Berbekal pendekatan yang diperolehnya melalui program WIT, Dika menerapkan pembelajaran berbasis proyek menggunakan metode Card Crafting English. Dalam metode tersebut, siswa membuat kartu kosakata sendiri, kemudian berdiskusi dan berlatih mengucapkan kata-kata yang mereka pelajari.
Dengan cara itu, siswa tidak sekadar menerima dan menghafalkan kosakata dari guru. Mereka terlibat langsung dalam proses membuat materi belajar sekaligus mempraktikkan Bahasa Inggris.
Kegiatan kemudian berlanjut melalui program Hello Friday yang digelar setiap Jumat. Para siswa mendapat kesempatan tampil bergiliran di lapangan sekolah. Bentuk penampilannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, mulai dari memperkenalkan diri, menyebutkan kosakata, hingga melakukan percakapan sederhana.
Selain kegiatan pada Jumat, Dika juga menyediakan ruang belajar tambahan melalui English Club setiap Sabtu. Kegiatan tersebut berlangsung di luar jam pelajaran dan dirancang agar siswa dapat bermain sekaligus berlatih menggunakan Bahasa Inggris.