Di Kalimantan Selatan, jumlah hotspot high confidence berada di angka 6 titik, turun dari 9 titik. Adapun Jambi tercatat memiliki 1 titik setelah pada pemantauan sebelumnya tidak ditemukan hotspot. Sedangkan Riau masih mencatat nihil hotspot.
Meski angka hotspot secara nasional turun signifikan, Kemenhut tidak mengurangi kewaspadaan maupun kegiatan operasi di lapangan. Perubahan cuaca, kelembapan lahan, arah angin, hingga kondisi bahan bakar di permukaan dan kawasan gambut dapat memengaruhi perkembangan karhutla dalam waktu cepat.
Kemenhut juga mengingatkan masyarakat agar tidak memahami angka hotspot sebagai jumlah pasti kejadian kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit. Data tersebut masih memerlukan pemeriksaan langsung di lapangan atau groundcheck.
Satu lokasi kebakaran juga dapat menghasilkan beberapa titik panas yang terdeteksi satelit. Karena itu, setiap indikasi hotspot tetap harus diverifikasi untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
Operasi Darat dan Udara Berlanjut
Penanganan karhutla tetap dilakukan melalui operasi terpadu yang melibatkan unsur darat dan udara. Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung pengendalian kebakaran.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 44 unit lainnya disiapkan untuk menjalankan operasi water bombing.
Sebanyak 55 armada udara ditempatkan untuk mendukung penanganan karhutla di enam provinsi prioritas. Selain itu, enam unit water bombing lainnya dikerahkan untuk membantu penanganan di wilayah lain yang terdampak.