Arahan tersebut menunjukkan bahwa penanganan pascabencana perlu segera bergerak dari fase darurat menuju pemulihan akses dan aktivitas masyarakat. Pembersihan material menjadi salah satu langkah yang diperlukan agar warga dapat kembali beraktivitas dan fasilitas yang terdampak dapat ditangani.
Selain permukiman, perhatian diarahkan pada jalan dan jembatan sebagai akses masyarakat, masjid sebagai fasilitas keagamaan, lahan pertanian sebagai sumber aktivitas warga, serta fasilitas umum yang terdampak galodo.
Waspadai Hujan dan Longsor Susulan
Di tengah proses penanganan, Gibran juga meminta jajaran pemerintah dan unsur terkait meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca serta kemungkinan terjadinya bencana susulan.
Informasi mengenai perkembangan cuaca dan kondisi wilayah yang berisiko dinilai perlu terus diperbarui. Informasi tersebut selanjutnya harus menjadi bagian dari koordinasi di lapangan sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Gibran secara khusus meminta peningkatan kewaspadaan terhadap hujan dan longsor susulan. Koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga perlu diperkuat.
"Tingkatkan kewaspadaan hujan dan longsor susulan. Perkuat koordinasi dengan BMKG dan pastikan warga di area rawan menerima informasi yang mudah dipahami," pintanya.
Dengan informasi yang terus diperbarui, warga yang berada di wilayah rawan diharapkan dapat memperoleh informasi yang mudah dipahami mengenai kondisi yang berpotensi membahayakan. Koordinasi antarpihak juga menjadi bagian penting dalam memastikan langkah penanganan dapat segera disesuaikan dengan perkembangan situasi.
Pemulihan Sawah Jadi Perhatian
Selain penanganan kondisi darurat dan pemulihan akses, sektor pertanian turut menjadi perhatian. Gibran menekankan pentingnya pemulihan lahan pertanian yang terdampak galodo agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitasnya ketika kondisi sudah memungkinkan.