Selain pertumbuhan ekonomi, perkembangan harga juga menjadi perhatian pemerintah. Inflasi pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen, yang masih berada pada level sasaran inflasi.
Suahasil mengatakan kombinasi pertumbuhan ekonomi dan inflasi tersebut memberikan keyakinan bahwa kondisi perekonomian Indonesia tetap memiliki ketahanan.
“Itu adalah angka-angka yang cukup memberikan confidence kepada kita bahwa perekonomian Indonesia itu stay resilient. Indonesia itu tetap resilien perekonomiannya, gerak ekonominya, gerak di masyarakat,” jelas Suahasil.
Menurut Suahasil, ketahanan ekonomi nasional juga dapat dilihat dari aktivitas masyarakat. Sejumlah indikator yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi menunjukkan adanya pertumbuhan.
Beberapa di antaranya adalah penjualan mobil, penjualan sepeda motor, penjualan semen, serta konsumsi masyarakat. Pergerakan indikator tersebut menjadi bagian dari gambaran aktivitas ekonomi domestik.
Selain itu, tingkat keyakinan konsumen turut menguat. Penjualan riil juga kembali memasuki fase ekspansif.
Meski demikian, pemerintah tetap mencermati Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur. Indikator tersebut perlu mendapatkan perhatian karena sektor manufaktur Indonesia turut dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global.
“Jadi, harus kita waspadai, kita tidak boleh lengah, tapi Indonesia kondisi ekonominya cukup resilien, malah saya bisa katakan sangat resilien,” jelasnya.