Sumbardaily.com – Kinerja Ekonomi Indonesia dinilai tetap resilien meski menghadapi berbagai tekanan dari Gejolak Global. Pertumbuhan ekonomi yang tetap solid, inflasi yang berada dalam sasaran, arus modal yang mulai pulih, serta kondisi APBN yang masih terjaga menjadi sejumlah indikator yang menunjukkan ketahanan perekonomian nasional.
Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi global untuk mengantisipasi berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi domestik.
Dinamika geopolitik yang masih dipengaruhi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu risiko yang menjadi perhatian pemerintah. Selain itu, perkembangan suku bunga Amerika Serikat juga berpotensi memberikan dampak terhadap kondisi pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Situasi suku bunga global yang diperkirakan masih berada dalam kondisi higher for longer membuat pemerintah perlu terus memperhitungkan dampaknya terhadap perekonomian dalam negeri.
“Kita selalu sangat memperhatikan apa yang terjadi di global. Memperhatikan apa yang terjadi di global itu menjadi penting untuk kita menyiapkan antisipasi perekonomian Indonesia. Dan salah satu antisipasinya adalah antisipasi yang harus dilakukan oleh APBN,” ungkap Suahasil dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta pada Jumat (18/9/2026).
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,45 Persen
Di tengah berbagai risiko eksternal tersebut, sejumlah indikator domestik menunjukkan perekonomian Indonesia masih bergerak positif.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tercatat sebesar 5,45 persen. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang menunjukkan aktivitas ekonomi nasional tetap berjalan di tengah perubahan kondisi perekonomian global.