Bantuan permakanan tersebut diberikan secara bertahap, dimulai sejak masa kehamilan hingga enam bulan setelah melahirkan.
Bagi Hastho, program pemenuhan gizi bagi ibu dan kampanye makan ikan bagi anak sekolah memiliki keterkaitan dalam tujuan besarnya. Keduanya merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi yang memiliki kondisi kesehatan dan kualitas yang baik sejak awal kehidupan.
"Semua program ini saling melengkapi. Ada upaya pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan ibu menyusui, kemudian ada edukasi dan pembiasaan makan ikan kepada anak-anak di sekolah. Tujuannya sama, yaitu menyiapkan generasi Dharmasraya yang sehat, cerdas, dan berkualitas," kata Hastho.
Ia menilai pembangunan kualitas SDM harus dilakukan secara berkelanjutan. Kesehatan dan kecukupan gizi sejak usia dini menjadi salah satu fondasi yang dapat menunjang kemampuan anak untuk tumbuh, belajar, serta berkembang secara optimal.
Artinya, upaya meningkatkan kualitas SDM tidak cukup dilakukan ketika anak telah memasuki usia produktif. Persiapan tersebut harus dimulai sejak masa pertumbuhan dengan memastikan anak memperoleh edukasi dan asupan gizi yang baik.
Investasi Menuju Indonesia Emas 2045
Hastho menyebut anak-anak yang saat ini mendapatkan pembinaan akan menjadi bagian dari generasi yang menentukan masa depan daerah dan bangsa. Karena itu, investasi terhadap kesehatan, kecerdasan, dan kualitas mereka perlu dilakukan sejak sekarang.
"Anak-anak yang sekarang kita siapkan adalah generasi yang akan menentukan masa depan daerah dan bangsa. Karena itu, mereka harus tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kualitas yang baik. Ini merupakan investasi untuk menyongsong Indonesia Emas 2045," ujarnya.
Dalam konteks tersebut, kebiasaan makan ikan sejak dini dipandang bukan sekadar persoalan menu makanan. Edukasi konsumsi ikan menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan hidup sehat yang diharapkan memberikan dampak terhadap kualitas generasi pada masa mendatang.