Selain kuliner, Solok Selatan juga memiliki Saluang Panjang yang menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat setempat. Alat musik tersebut dibuat dari bambu dan dikenal luas di kawasan Sungai Pagu, Muara Labuh, serta sejumlah nagari di sekitarnya.
Keberadaan Saluang Panjang hingga kini masih dapat ditemukan dalam kegiatan masyarakat, khususnya kegiatan yang memiliki kaitan dengan adat. Kondisi tersebut membuat pelestarian alat musik tradisional ini tetap menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya daerah.
Berbeda dengan Pangek Pisang dan Saluang Panjang yang masih dapat ditemukan dalam kegiatan masyarakat, Tari Indang Tagak Beringin Sakti menghadapi persoalan regenerasi.
Tari Indang Tagak di Solok Selatan disebut mulai terancam keberadaannya karena tidak adanya regenerasi. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam upaya pemerintah mempertahankan kesenian tradisional tersebut.
Tari Indang Tagak Beringin Sakti juga memiliki karakteristik yang berbeda dari tari indang pada umumnya. Tarian tersebut dimainkan oleh laki-laki. Para penari menggunakan salendang, sedangkan indang yang digunakan memiliki ukuran lebih besar dari indang yang biasanya digunakan dalam tari indang.
Keunikan lainnya terdapat pada pengiring tarian. Tari Indang Tagak tidak menggunakan iringan musik seperti pada umumnya. Pertunjukan mengandalkan gerakan tari, dendangan dari suara para pemain, serta bunyi yang dihasilkan dari alat indang itu sendiri.
Pemerintah Kabupaten Solok Selatan kemudian menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga keberadaan ketiga warisan budaya tersebut. Upaya pelestarian dilakukan melalui empat pilar utama, yakni pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.
Pada aspek pelindungan, pemerintah melakukan pendataan, dokumentasi, serta pengarsipan berbagai unsur budaya. Hal yang didata dan diarsipkan antara lain sejarah, syair, gerakan, instrumen, serta berbagai unsur lain yang berkaitan dengan warisan budaya tersebut.