Dari Bambu Runcing hingga Peluru di Paha, Kisah Nawi Sang Veteran di Usia 104 Tahun

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Jumat, 14 Agustus 2026 | 23:40 WIB



Gerak pasukan yang dipimpinnya berjalan selangkah demi selangkah dan berada dalam jalur perjuangan yang beriringan, namun terpisah, dengan kelompok legendaris Harimau Kuranji.





Ketika berbicara tentang masa tersebut, Nawi tidak mengenang kemegahan persenjataan. Perlawanan yang dijalani bersama para pemuda justru bertumpu pada keberanian dan tekad.





"Senjata kami waktu itu talang baranjuang (bambu runcing). Kami berjuang lima tahun sebelum merdeka. Belanda harus angkat kaki dari Indonesia, itu tekad bulat di hati kami," kenang Nawi dengan pandangan menerawang.





Senjata seperti bambu runcing menjadi modal utama mereka. Jika kemudian ada senapan Bren, rantai, atau granat yang berada di tangan pasukan, senjata-senjata tersebut bukan didapat dengan mudah. Persenjataan itu direbut langsung dari pihak lawan dalam pertempuran jarak dekat.





Bagi Nawi dan para pemuda pada masa itu, keterbatasan senjata tidak menghapus keinginan untuk melawan. Tekad menjadi kekuatan yang membuat mereka terus bergerak.





Ketika Perang Berganti dengan Kelaparan





Perjuangan Nawi kemudian memasuki babak lain ketika pendudukan Jepang dimulai pada 1942. Jika pertempuran menghadirkan ancaman langsung, masa pendudukan Jepang meninggalkan kenangan lain yang tidak kalah berat: kelaparan dan kerja paksa.





Bagi Nawi, periode tersebut merupakan salah satu bagian paling kelam dalam perjalanan hidupnya sebagai pejuang.





"Zaman Jepang paling susah makan. Kerja diperas banyak-banyak, makan cuma sedikit," tutur Nawi lirih.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X