Fadly mengatakan semangat kebangkitan Kota Padang selanjutnya diarahkan melalui transformasi ekonomi.
Menurut dia, perubahan tersebut tidak sekadar ditujukan untuk mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga mengubah pola kerja kota, meningkatkan produktivitas, memperkuat kualitas sumber daya manusia, membuka kesempatan kerja, menaikkan kelas pelaku usaha lokal, serta memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan lebih merata.
Padang, lanjutnya, memiliki tiga kekuatan utama sebagai kota jasa. Salah satunya adalah sektor pendidikan. Puluhan perguruan tinggi berdiri di Kota Padang, termasuk 46 perguruan tinggi swasta. Keseluruhan perguruan tinggi tersebut menjadi tujuan belajar bagi lebih dari 180 ribu mahasiswa.
Keberadaan mahasiswa, dosen, peneliti, dan tenaga profesional dinilai membentuk ekosistem ekonomi yang luas, mulai dari kebutuhan hunian, transportasi, kuliner, layanan kesehatan, teknologi, pasar pengetahuan hingga ekonomi kreatif.
Selain pendidikan, Padang juga diposisikan sebagai kota pariwisata. Data yang disampaikan Fadly menunjukkan kunjungan wisatawan pada 2025 mencapai 5,3 juta orang, naik dibandingkan 4,3 juta orang pada tahun sebelumnya.
Pada periode tersebut, retribusi objek wisata tercatat sekitar Rp922 juta atau mencapai 153 persen dari target.
Menurut Fadly, capaian tersebut membawa tantangan lanjutan. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan jumlah wisatawan, tetapi juga harus mendorong wisatawan tinggal lebih lama, meningkatkan pengeluaran selama berada di Padang, memperbaiki kualitas destinasi, serta memastikan manfaat ekonomi pariwisata semakin luas dirasakan masyarakat.
“Padang juga merupakan kota perdagangan dan konektivitas. Perdagangan besar dan eceran menyumbang 17,52 persen terhadap PDRB Kota Padang, sedangkan transportasi dan pergudangan menyumbang 15,68 persen. Posisi ini menegaskan peran Padang sebagai pusat distribusi barang, orang, dan jasa bagi Sumatera Barat serta kawasan pantai barat Sumatera,” katanya.