Ketidaksesuaian tersebut menyangkut jumlah korban selamat maupun penumpang yang benar-benar berada di atas kapal ketika kebakaran terjadi.
Dudy mengatakan pencocokan data masih dilakukan untuk memastikan jumlah penumpang sebenarnya, termasuk mereka yang selamat dan meninggal dunia.
"Iya, makanya kami akan cocokkan, karena memang ada simpang siur antara manifes dengan faktual yang ada di lapangan," kata Dudy.
"Jadi informasi yang kami dapatkan ada penumpang juga yang membatalkan perjalanan, oh, tapi tidak dilakukan revisi atas manifes. Ini yang harus kami cocokkan kembali, berapa yang ada faktual," sambungnya.
Persoalan manifes semakin menjadi perhatian setelah terdapat keluarga korban yang mengaku tidak menemukan nama anggota keluarganya dalam daftar penumpang.
Pemerintah juga menemukan lima anak yang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat tetapi tidak tercatat dalam manifes.
Menurut Dudy, seluruh orang yang berada di atas kapal harus tercatat. Pencatatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga berhubungan langsung dengan aspek keselamatan ketika terjadi keadaan darurat.
"Kejadian ini menjadi pelajaran penting juga buat pengelola atau perusahaan pelayaran, bahwa semua yang on board siapapun itu harus ada datanya. Nah, itu ada 5 anak yang yang tidak tercatat dalam manifes. Jadi mungkin hanya dicantumkan anak ini akan menjadi evaluasi kami juga kenapa tidak tercatat di dalam manifes," ucapnya.