"Kondisi ini mendukung pencapaian net devisa pariwisata yang positif bagi Indonesia," ujarnya.
Pemulihan sektor akomodasi juga terus berlanjut. Tingkat okupansi hotel berbintang pada Mei 2026 tercatat sebesar 50,76 persen atau meningkat 2,48 poin persentase dibandingkan Mei 2025 yang berada pada angka 48,28 persen.
Selama Januari hingga Mei 2026, tingkat okupansi hotel berbintang mencapai 46,99 persen. Angka tersebut naik 2,14 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 44,85 persen.
"Okupansi hotel yang membaik menjadi sinyal positif bagi ekosistem pariwisata karena berhubungan langsung dengan pergerakan wisatawan, pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, serta aktivitas ekonomi pendukung di destinasi," kata Ni Luh Puspa.
Selain mencatat perkembangan positif pada berbagai indikator utama, Kementerian Pariwisata juga memperkuat sinergi lintas kementerian dan lembaga sepanjang Juni 2026.
Salah satunya melalui Rapat Koordinasi Tingkat Menteri mengenai Penguatan Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan. Dari koordinasi tersebut terdapat tiga tindak lanjut utama yang akan dijalankan.
Pertama, mempercepat pengembangan empat Destinasi Pariwisata Prioritas Percepatan, yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo yang terintegrasi dengan pengembangan wilayah, bandar udara, serta konektivitas penerbangan.
Kedua, memperkuat promosi sekaligus pengembangan pola perjalanan wisata terpadu.