Setelah itu, penggunaan bahan bakar tersebut akan diperluas secara bertahap ke seluruh sarana diesel yang beroperasi di wilayah Divre II Sumbar sesuai kesiapan teknis serta ketersediaan pasokan bahan bakar.
Penerapan bertahap tersebut dilakukan agar proses adaptasi berlangsung optimal sekaligus memastikan seluruh armada mampu beroperasi sesuai standar keselamatan yang telah ditetapkan.
Sebelum implementasi dilakukan secara luas, PT KAI (Persero) bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) lebih dahulu melaksanakan uji terap penggunaan biodiesel B50 pada sarana perkeretaapian berbasis diesel.
Pengujian tersebut menjadi bagian penting dari proses validasi guna memastikan karakteristik Bio Diesel B50 sesuai dengan kebutuhan operasional kereta api yang menempatkan keselamatan dan keandalan sebagai prioritas utama.
Pada lokomotif, pengujian difokuskan pada performa mesin selama beroperasi. Sejumlah aspek yang dievaluasi meliputi respons engine, stabilitas proses pembakaran, konsumsi bahan bakar, hingga kondisi komponen utama mesin.
Sementara itu, pada kereta pembangkit dilakukan pengujian terhadap performa genset, efisiensi konsumsi bahan bakar, kualitas emisi, kondisi filter, serta ketahanan operasi.
Seluruh pengujian tersebut bertujuan memastikan pasokan listrik selama perjalanan tetap optimal sehingga pelayanan kepada pelanggan tidak mengalami gangguan.
“Kami menerapkan setiap tahapan implementasi secara terukur melalui pengujian, pemantauan, dan evaluasi berkelanjutan. Hal ini penting agar penggunaan biodiesel B50 tetap memenuhi standar keselamatan operasional sekaligus menjaga keandalan sarana dalam melayani masyarakat,” kata Reza.