Saat ini, pemerintah daerah masih menunggu kepastian teknis penanganan dan dukungan anggaran dari pemerintah pusat untuk penanganan lahan rusak berat dan sawah hilang.
“Kita sudah gerakkan semua simpul, mulai dari kabupaten, provinsi sampai kementerian. Tinggal sekarang kepastian anggaran. Mudah-mudahan Mei ini sudah mulai terlihat titik terang,” katanya.
Mahyeldi juga mengingatkan potensi banjir dan longsor masih mengancam sejumlah wilayah di Sumbar mengingat curah hujan di beberapa daerah masih tergolong tinggi.
Ia mencontohkan longsor yang masih terjadi di Kabupaten Agam dan menyebabkan jalan terputus serta mengganggu area pertanian masyarakat.
“Di Agam kemarin masih terjadi longsor, jalan putus dan area pertanian terganggu. Karena itu kita harus bergerak cepat sekaligus meminimalisir risiko banjir dan longsor berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian RI, Tedy Dirhamsyah, mengapresiasi percepatan rehabilitasi lahan pertanian di Sumbar. Ia menilai capaian Sumbar menjadi yang terbaik dibandingkan daerah terdampak lainnya seperti Aceh dan Sumatera Utara.
“Total lahan rusak ringan dan sedang di Sumbar mencapai 3.902 hektare dan progresnya luar biasa. Secara nasional rata-rata baru sekitar 14 persen, tapi Sumbar sudah memenuhi target Pak Menteri. Ini juara satu,” kata Tedy.
Ia menambahkan, Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan sejumlah program antisipasi kekeringan untuk menghadapi dampak El Nino, seperti irigasi perpompaan dan pembangunan sumur air dalam.